UIN Walisongo Semarang

Diskusi Sesi-6

Manajemen Sistem Informasi

http://walisongo.ac.id

by: Rizha Fauzul Muna (1803036059)

 

Konsep Five Competitive Forces dan Strategi Umum untuk Bersaing

Five competitive forces

  1. Traditional Competitors (Pesaing Tradisional)
    Dalam Suatu lingkungan bisnis mempunyai tingkat kompetisi yang tinggi antar perusahaan dan kompetitor. dan setiap perusahaan akan berjuang untuk menciptakan inovasi agar produknya tak kalah saing dan dapat mengungguli pendapatan kompetitor. Pada bagian ini akan ditelaah seberapa kuat persaingan di pasar dengan mempertimbangkan jumlah pesaing yang ada dan apa yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengatasinya.
    Persaingan akan kuat dan tinggi bila banyak pesaing di sekitar dengan produk atau jasa yang serupa.
    Contoh: Di Pasar, pada zaman dahulu orang orang lebih suka menggunakan bisnis tradisional dikarenakan mereka bisa menjalani bisnis dengan baik dan bisa saling bertukar pikiran.
  2. New Market Entrants (Pendatang Pasar Baru)
    Pada bagian ini menjelaskan tentang seberapa sulit bagi pendatang baru atau new entrants untuk memasuki suatu pasar atau industri. Kekuatan perusahaan juga dipengaruhi oleh kekuatan pendatang baru. Kekuatan-kekuatan tersebut dipengaruhi oleh hambatan berupa biaya masuk, regulasi, kondisi ekonomi, hak paten, dan lainnya yang ada di sekitar.  Bila hambatan bagi pendatang baru untuk memasuki pasar atau industri cukup banyak, kekuatan pendatang baru akan lemah dan kekuatan perusahaan akan kuat. Sedangkan ketika hambatan bagi pendatang baru cukup sedikit dan rendah, kekuatan bagi perusahaan akan melemah dan justru menguatkan kekuatan pendatang baru.
    Contoh: Impertahankan posisinya di pasar.
  3. Substitute Products and Services (Produk dan Layanan Pengganti)
    Selain dari pendatang baru dan kompetitor, kekuatan dan persaingan perusahaan juga datang dari barang atau produk pengganti. Sebutan lain bagi produk pengganti adalah produk substitusi, dimana produk substitusi mempunyai manfaat dan fungsi serupa dengan produk perusahan. Misalnya, produk substitusi dari roti adalah mie karena kedua produk tersebut sama-sama mempunyai manfaat mengenyangkan dan berfungsi sebagai asupan makanan bagi konsumen.
    Pada bagian ini, akan dianalisis seberapa mudahnya konsumen untuk beralih kepada produk substitusi. Analisis bisa dilakukan dengan cara memeriksa jumlah, harga dan kualitas produk substitusi, serta memperkirakan posisi dengan seberapa banyak keuntungan yang diperoleh perusahaan dari produk substitusi. Ketika produk substitusi yang beredar cukup banyak dan mempunyai harga dan kualitas tak kalah dengan produk perusahaan, konsumen mudah beralih dan kekuatannya lebih besar dari perusahaan.
    Contoh: Posisi Astra International sebagai ATPM akan terancam apabila transportasi massal semakin berkembang. Adanya transportasi massal yang bagus akan menyebabkan penjualan mobil ataupun motor menurun.
  4. Customers (Pelanggan)
    Customers atau konsumen memiliki peran yang sangat penting. Seluruh pemasukan perusahaan adalah berasal dari konsumen. Kemampuan yang dimiliki konsumen untuk menawar dan mendorong harga produk lebih rendah adalah salah satu dari lima kekuatan yang mempengaruhi bisnis. Hal ini dipengaruhi oleh berapa banyak konsumen yang dimiliki perusahaan, seberapa signifikan setiap konsumen, dan berapa biaya perusahaan untuk mencari pelanggan baru dalam suatu  pasar.
    Basis konsumen yang lebih kecil dan lebih kuat berarti setiap konsumen memiliki lebih banyak kekuatan untuk bernegosiasi demi mendapatkan harga yang lebih rendah dan penawaran yang lebih baik. Perusahaan yang memiliki banyak konsumen akan lebih mudah untuk memberlakukan harga produk agar meningkatkan profitabilitas.
    Contoh: Industri semen. Jumlah pemain di dalam industri ini relatif sedikit sehingga pelanggan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.
  5. Suppliers (pemasok)
    Supplier memiliki pengaruh terhadap perusahaan yaitu kemampuan supplier dalam  menentukan syarat atau perjanjian kerjasama dengan perusahaan. Semakin sedikit supplier yang dimiliki oleh perusahaan, maka semakin besar tingkat ketergantungan perusahaan terhadap supplier dan kekuatan supplier semakin tinggi dan kekuatan perusahaan semakin rendah.
    Contoh: Lemahnya bargaining power of supplier adalah Carrefour. Dengan brand equity yang dimilikinya, Carrefour dapat dengan mudah mengganti supplier-nya apabila menaikkan harga karena masih banyak supplier lain yang mengantri.

 

Strategi umum untuk menghadapi kekuatan kompetitif dengan menggunakan TI:

  • Low-cost leadership.
    Strategi Biaya Rendah menekankan pada upaya memproduksi produk standar dengan biaya per unit yang sangat rendah. Produk baik barang maupun jasa biasanya ditujukan kepada konsumen menggunakan harga sebagai faktor penentu keputusan. Untuk dapat menjalankan strategi biaya rendah, sebuah perusahaan harus mampu memenuhi persyaratan di dua bidang, yaitu: sumber daya dan organisasi.
    Contoh: Sistem pengisian terus menerus Walmart menyediakan seperti respon pelanggan yang efisien.
  • Product differentiation.
    Strategi Pembedaan Produk (differentiation), mendorong perusahaan untuk sanggup menemukan sesuatu yang berbeda dalam pasar yang akan dijadikan sebgai sasaran. Keunikan produk baik barang atau jasa yang akan menarik minat konsumen potensialnya. Diferensiasi tidak memberikan jaminan terhadap keunggulan kompetitif, terutama jika produk-produk standar yang beredar telah (relatif) memenuhi kebutuhan konsumen atau jika kompetitor/pesaing dapat melakukan peniruan dengan cepat. Contoh penggunaan strategi ini secara tepat adalah pada produk barang yang bersifat tahan lama (durable) dan sulit ditiru oleh pesaing.
  • Focus on market niche.
    Strategi ini digunakan untuk membangun keunggulan bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih sempit. Strategi jenis ini ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil dan pengambilan keputusan dalam membeli relatif tidak dipengaruhi oleh harga. Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya besaran pasar yang cukup (market size), terdapat potensi pertumbuhan yang baik, dan tidak terlalu diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai keberhasilannya (pesaing tidak tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut). Strategi ini akan menjadi lebih efektif jika konsumen membutuhkan suatu kekhasan tertentu yang tidak diminati oleh perusahaan pesaing.
  • Strengthen customer and supplier intimacy
    Strategi ini lebih mengutamakan kekuatan hubungan baik dengan pemasok maupun pelanggan atau partner.
    Setelah strategi dianalisis samapi matang maka strategi selanjutnya adalah strategi dalam pengambilan keputusan atau strategi pemilihan, organisasi memilih dan memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan e-bisnisnya untuk selanjutnya mengimplementasikan pilihan atau keputusan yang diambil strategi dalam kegiatan e-bisnis dari organisasi.
UIN Walisongo Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *